saatnya berkarya
Siang itu di sudut tenggara Dusun Trucuk, dua belas pemuda paruh baya berkumpul untuk menimba ilmu. Difasilitasi oleh Mas Isman, penasehat sekaligus penggagas KP3, mereka belajar tentang makna kesuksesan. Dengan cermat penjelasan demi penjelasan dicerna oleh para calon pemimpin bagsa tersebut. Sesekali terdengar celetukan dan komentar para peserta di tengah uraian yang disampaikan. Kadang hening, kadang riuh renyah berderai tawa. Sebuah proses yang terus berlangsung hingga pertemuan usai; mereka semua belajar.
“Sukses!” begitu kata yang sering kita dengar sebagai doa untuk mimpi dan berbagai rencana ke depan. Lalu, apa makna sebuah kesuksesan? Punya rumah dan mobil mewah? Meraih gelar doktor karena kejeniusan yang tinggi? Atau nama kita populer di kalangan media dan masyarakat? Ya, masing-masing dari kita tentu mempunyai makna tersendiri tentang arti kesuksesan.
Tak hanya secara definisi, setiap orang memiliki ukuran yang berbeda dalam menilai kesuksesan. Mungkin sebagian orang baru merasa sukses apabila mampu mengembangkan perusahaannya hingga level internasional. Sedang yang lain, menganggap sukses itu ketika seseorang berhasil melewati tantangan-tantangan di setiap ujian kehidupan. Dr. ‘Aidh al-Qarni, penulis buku ‘Isy Kariiman mengartikan kesuksesan sebagai bentuk terlaksananya kewajiban dengan sesempurna mungkin. Melakukan kerja terbaik, kurang lebih inilah yang berusaha ditekankan oleh Dr. ‘Aidh al-Qarni dalam definisinya. Apapun pendapat orang tentang kesuksesan, yang jelas bukan itu yang berusaha ditekankan oleh Mas Isman, Ahad 26 Februari lalu.
“Berfikirlah untuk meraih kesuksesan bersama-sama”. Penggalan kalimat tersebut dapat dikatakan sebagai inti materi yang disampaikan oleh Mas Isman. Sederhana kedengarannya, namun besar pengaruhnya. Tentu akan terasa lebih indah ketika kita tak hanya merencanakan program kesuksesan secara pribadi, namun turut menggandenga orang lain untuk bersama-sama merasakan makna sukses tersebut. Orang-orang yang bermental pemimpinlah yang kini sedang dibutuhkan negeri ini dan bukan mereka yang sangat berbangga menjadi seorang bos. Karena seorang pemimpin, akan menganggap rekan kerja sebagai mitra, bukan bawahan atau karyawan. Seorang pemimpin menganggap usaha bersama sebagai kinerja tim, yang menganggap setiap orang mempunyai bagian dalam mengantarkan kesuksesan bersama.
Lalu, apa bekal yang perlu disiapkan untuk meraih kesuksesan bersama? Salah satunya adalah tulusnya niat. Seseorang yang memulai usahanya dengan niat yang “benar” dan besar akan memiliki banyak jalan menuju kesuksesan. Kerendahan hati dan keikhlasan untuk berbagi semoga menjadi semangat yang selalu menyertai usaha-usaha kita. Jika David J. Schwartz berpendapat bahwa besar—kecil kesuksesan itu diukur berdasarkan besar—kecilnya cara berfikir kita. Untuk itu, tak ada alasan untuk tidak memulai berfikir besar bukan? Selamat merencakanan mimpi-mimpi dan harapan-harapan besar bagi lingkungan kita kawan. Selamat berjuang!
Siapa bilang santri TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) hanya tahu ngaji dan ilmu agama? Siapa bilang mereka tak berani diadu dalam kompetisi di bidang lain, seperti olahraga misalnya? Hemh.. Di sini, masing-masing mereka telah membuktikan kemampuannya.
Musim liburan sekolah tahun lalu (Desember 2011), KP3 (Kelompok Pemuda Peduli Pendidikan) bekerjasama dengan BADKO TKA/TPA Kecamatan Pajangan resmi menggelar turnamen sepakbola santri se-Kecamatan Pajangan. Yup. Siapa yang tak suka bola? Sebagian besar laki-laki menyukai jenis permainan ini. Mulai dari bapak-bapak hingga anak-anak, tak sedikit yang berstatus “pecandu bola”. Kecintaan terhadap bola tak ketinggalan juga mewabah pada santri TPA. Bahkan dalam beberapa kasus, seringkali santri lebih memilih bermain bola di sore harinya daripada berangkat TPA. Tentu hal ini menjadi sebuah keprihatinan tersendiri bagi kita.
Menyikapi problematika rendahnya minat mengaji yang didominasi oleh anak laki-laki, KP3 berinisiatif mengadakan sebuah kegiatan yang dapat menarik antusiasme mereka. Turnamen sepak bola santri didesain untuk mengakomodir kecenderungan jiwa kompetisi lapangan yang dirasa lebih menarik dan menantang bagi kaum adam. Salah satu persyaratan yang dianjurkan adalah, anak yang hendak mengikuti pertandingan ini harus tercatat sebagai santriwan di TPA yang diwakilinya. Dengan demikian, karena kuasa pengajuan nama peserta dipegang oleh unit TPA, mereka mempunyai hak untuk memprioritaskan santri yang aktif mengaji sebagai pemain intinya.
Pertandingan ini berlangsung selama kurang lebih dua pekan. Ada 17 tim yang terdaftar sebagai pemain dalam laga sepak bola santri sesi perdana ini. Dari total tim yang ada, dibagi menjadi tiga group yang masing-masing akan bersaing menjadi yang terbaik hingga masuk babak final. Pertandingan berlangsung meriah meski sesekali pertandingan harus ditunda karena cuaca yang tidak mendukung. Para santriwan yang bertanding terlihat sangat antusias walau terkadang harus bermandi lumpur karena terpeleset di lapangan yang becek. Namun, demi sebuah kata kemenangan, proses perjuangan itu dilalui para santri dengan hati riang. Walau terkadang terasa pahit karena harus menerima kekalahan, tapi sikap sportif dari anak-anak ini patut kita hargai.

kadangkala kita harus merasakan kekalahan dalam pertandingan. tapi bukan berarti perjuangan berhenti sampai di sini bukan?

ekspresi kemenangan, tak hanya sekadar untuk dirayakan, tapi juga untuk disyukuri dan diambil hikmahnya.
Setelah bergulat dengan para lawan yang tak bisa dianggap enteng, akhirnya kita dapatkan dua tim yang berhasil masuk babak final. Di babak penentuan ini, TPA Safinatul Karim (Kalakijo) berhasil menaklukkan TPA Al-Ikhlas (Klabo) dengan skor 1-0, sekaligus menjadi juara pertama dalam pertandingan tersebut. Posisi runner up diraih oleh TPA Al-Ikhlas (Klabo) dan disusul TPA Khalil Ghibran (Dukuh) sebagai juara ketiga. TPA AL-Amien (Trucuk) menempati peringkat keempat sekaligus mengantarkan Andi Febrianto sebagai pemain terbaik. Sedangkan gelar top scorer disandang oleh Aan Syahputra dari Kalakijo.
Menang ataupun kalah itu hal biasa. Yang lebih penting dari itu semua, bagaimana kita bisa belajar menghargai arti dari keduanya. Mengejar prestasi yang lebih tinggi seringkali dirasa lebih mudah daripada mempertahanka prestasi yang pernah diraih sebelumnya. Untuk itu, diperlukan energi ekstra agar prestasi yang kita raih tak hanya bertahan sementara. Diperlukan kekuatan besar setiap harinya, untuk senantiasa menghadirkan yang terbaik dari diri kita. Just do the best, then let Allah take the rest.
TBM IQRO memberikan beberapa masukan pada draft bahan instrumen akreditasi nasional Taman Bacaan Masyarakat pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non-Formal (BAN PNF) dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY di Yogyakarta (4/10). Di antara masukan itu adalah TBM sebaiknya memiliki perangkat komputer yang terhubung internet serta layanan buku TBM keliling sebagaimana di lakukan Ketua Forum TBM Sleman. Kedua usulan tersebut belum tercantum di dalam draft ini.
“Kata “sebaiknya” itu artinya tidak harus. Tetapi, tanpa keberadaannya akan mengganggu efektivitas TBM. Karena TBM kami menjadi cukup ramai karena adanya fasilitas komputer dan internet ini. Meskipun masih sangat sederhana. Sedangkan layanan keliling kami belum melakukan karena pengunjung sudah bersedia datang ke TBM. Namun, bagi daerah yang minat bacanya rendah, layanan ini semestinya ada, seperti yang di Sleman itu. Kalau tidak, TBM bisa tidak ada pengunjungnya,” terang Isman, Ketua TBM IQRO.
Sekretaris BAN PNF, Yessi Gusman menyatakan bahwa akreditasi untuk lembaga TBM ini merupakan hal yang baru. Penerapannya baru akan dimulai Januari 2011. Pada kesempatan itu anggota Forum TBM DIY berharap berbagai masukan yang diberikan dapat diakomodasi sehingga instrumen akreditasi tersebut dapat berjalan dengan baik. (dok/KP3)
Agar dapat berkegiatan secara lebih luas dan memberikan kepastian hukum bagi mitra kerjasama maka KP3 mendirikan Lembaga Pendidikan Taman IQRO pada 30 Juli 2010. Lembaga ini berakta notaris No 116/ 2010/Aries Djoko Surjono, SH. Dengan demikian, berbagai kegiatan KP3 seperti perpustakaan, penyaluran beasiswa, pendampingan wirausaha dan sebagainya berada di bawah lembaga ini.
Selain itu, kegiatan lembaga juga mencakup penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan dari pendidikan anak usia dini, pesantren, pembentukan komunitas-komunitas pemberdayaan pendidikan dan kemandirian ekonomi, kursus, bimbingan belajar dan hal-hal lain yang mendukung kegiatan edukasi masyarakat. “Untuk itu, mohon dukungan masyarakat dalam bentuk apa pun guna mencapai kondisi masyarakat yang berilmu, mandiri dan sejahtera melalui lembaga ini atau pun lembaga lain yang sevisi. Di sini kami hanya membantu masyarakat. Subyek pembangunan pendidikan adalah masyarakat itu sendiri,” ungkap Isman, Ketua KP3. (dok/KP3)
Pepustakaan Nasional (Perpusnas) dan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY melakukan kunjungan dan monitoring ke Perpustakaan IQRO guna mengetahui pemanfaatan bantuan buku selama ini (31/8). Perpustakaan IQRO sendiri telah menerima bantuan perpustakaan desa total sebanyak 2000 buku pada 2009 dan 2010. Turut mendampingi kunjungan tersebut perwakilan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bantul, Sjamsuddin.
Ir Haridijatno Soetarmo MM, konsultan Perpusnas menyatakan bahwa kunjungan ini untuk memantau sejauh mana pemanfaatan bantuan buku melalui program perpustakaan desa tersebut. Dari pengamatan sementaranya, Hari menilai bahwa program ini dapat dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang namun dengan penerima yang lebih selektif. Pasalnya, memang ada penerima yang belum dapat mengoptimalkan bantuan buku tersebut, terutama karena minimalnya motivasi sumber daya manusia pengelolanya. “Ada yang bukunya ditaruh di belakang rumah. Ketika ditanya masih perlu tambah buku, jawabnya 1000 ini saja sudah cukup Pak. Ini menandakan motivasi yang kurang,” ujarnya.
Heru Purwanto, Kepala Bidang Pengembangan BPAD DIY menyepakati selektivitas penerima bantuan. Bahkan pihaknya mengusulkan persyaratan agar perpustakaan desa penerima harus mendapatkan anggaran dari pemerintah setempat. Heru juga menambahkan bahwa perpustakaan penerima yang tumbuh dari bawah ternyata lebih mampu berjalan. Heru pun berpesan agar Perpustakaan IQRO dapat lebih dikembangkan.
Sementara itu, Sjamsuddin menegaskan bahwa dalam pemberian rekomendasi penerima bantuan, pihaknya memang melihat perpustakaan yang benar-benar berjalan, termasuk Perpustakaan IQRO. Perpustakaan ini sebenarnya didirikan oleh Komunitas Peduli Pendidikan (KP3) yang kemudian berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Guwosari, Pajangan, Bantul.
Menurut Isman, Ketua Perpustakaan IQRO pemberian bantuan buku ini mampu menambah jumlah peminjaman. Data peminjaman buku meningkat sekitar 80 kali per bulan sehingga total menjadi 150 peminjaman per bulan untuk dua perpustakaan IQRO yang ada. “Itu belum yang hanya dibaca di perpustakaan saja,” ujarnya. Jumlah kunjungan pembaca pun meningkat. Sebelumnya baru sekitar 250 orang per bulan dan kini menjadi sekitar 400 kunjungan pembaca per bulan. Jumlah pengunjung mayoritas masih anak-anak usia SD. Untuk ibu-ibu dan remaja porsinya baru sekitar 20 persen. Dok KP3.
Perpustakaan IQRO menyampaikan terimakasih atas pemberian 1000 buku dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Pemprov DIY. Bantuan diterima pada 30 Agustus 2010 lalu. “Kami menyampaikan apresiasi karena pemberian bantuan buku ini lebih tertata. Sudah diolah dan ada buku inventarisnya. Pokoknya taman bacaan kita tinggal pakai,” ungkap Isman, Ketua Perpustakaan IQRO Kalakijo, Guwosari, Pajangan, Bantul.
Buku yang diperbantukan terdiri atas 500 judul berkategori keagamaan, keterampilan, pertanian, peternakan, kesehatan, sastra dan pengetahuan umum yang lain. “Kami sebenarnya juga sangat membutuhkan buku-buku anak-anak untuk umur 6-12 tahun yang menarik. Karena mereka pembaca potensial kami. Di samping itu juga VCD-VCD pendidikan, motivasi dan sebagainya. Komputer pun kami masih butuh. Biasanya anak-anak tertarik datang ke perpustakaan karena untuk main game atau belajar computer,” tambahnya. Dok KP3.
Sebuah kebahagiaan bagi KP3 bahwa pada Mei 2010 lalu berhasil membuka satu lagi unit Taman Bacaan Masyarakat (TBM) IQRO di Dukuh Trucuk, Triwidadi, Pajangan, Bantul, DIY. TBM ini melakukan pelayanan setiap hari dari pagi sampai magrib. Namun, pada praktiknya bisa diakses kapan saja karena di ruang terbuka serta tanpa kunci pengaman. Ketua KP3, Isman menyatakan bahwa TBM ini didirikan untuk melayani ibu-ibu yang mengantar putra-putrinya di Satuan Paud Sejenis (SPS) Tunas Mulia yang berada di tempat yang sama. “Sebagian anak-anak itu kan pada proses pembelajarannya sudah bisa ditinggal meskipun tidak bisa ditinggal pulang. Untuk menambah wawasan di saat menunggu itu maka kita sediakan bahan bacaan. Terutama tentang pendidikan dan perkembangan anak.
Jadi, siapa saja yang memiliki buku atau bahan apa saja terutama yang bersesuaian dengan pendidikan anak maka dengan senang hati kami menerimanya,” ungkapnya. Agar ibu-ibu tersebut lebih paham dan lebih tertarik lagi untuk membaca maka setiap Rabu dua minggu sekali dilakukan kajian tentang keluarga, wanita dan psikologi anak.
Selain itu TBM juga diperuntukkan bagi santri-santri TPA Tunas Mulia serta kelompok tani ternak Andini Makmur di pedukuhan tersebut. Di TPA ini terdapat 30 santri yang datang setiap Selasa dan Sabtu. Mereka meminjam buku pada Selasa untuk dikembalikan di hari Sabtu. Demikian sebaliknya. Sedangkan untuk kelompok tani ternak, mereka bisa meminjam buku serta majalah-majalah pertanian dan peternakan. Kebetulan setiap bulan TBM mendapatkan kiriman majalah perunggasan Poultry Indonesia serta Agrina. Di samping itu juga mendapatkan sumbangan majalah Trobos dan Infovet dari teman secara rutin. “Sehingga untuk bahan bacaan peternakan, pertanian dan perikanan kita selalu memiliki yang terbaru,” ungkap Isman.
Belum seperti TBM IQRO Kalakijo yang sudah memiliki lebih dari 1200 buku, TBM IQRO Trucuk baru memiliki sekitar 120 buku dan 500 eksemplar majalah. Yang membanggakan minat baca anak-anak dan ibu-ibu di Trucuk ternyata cukup tinggi. Pada Mei terdapat 97 peminjaman buku. Pada Juni 90 peminjaman dan Juli 35 peminjaman dan untuk Bulan Agustus sampai tanggal 3 sudah 10 anak yang melakukan peminjaman. Semakin turunnya jumlah peminjaman terjadi karena belum bertambahnya koleksi, terutama buku untuk anak-anak. Untuk itu segera akan diadakan upaya penambahan koleksi serta rolling buku dari TBM IQRO Kalakijo. (Dok/KP3).

Evaluasi Pembuatan Kolam
Dua belas September silam, adik-adik KP3 melakukan panen awal lele yang mereka budidayakan sendiri. Memang belum banyak. Baru diperoleh sekitar 15,5 kg dari seribu bibit yang ditebar. Sisanya dimasukkan ke kolam lagi karena ukurannya masih terlalu kecil. Lele hasil panen ini mereka jual sendiri dengan harga Rp. 12 ribu/kg.
Orientasinya memang belum hasil, tetapi ilmu dan keorganisasian kerja. KP3 hanya memberikan semangat dan meminjamkan modal sesuai dengan proposal yang mereka buat. Selebihnya semua harus dilakukan sendiri.

Suasana Panen lele
Cukup terharu sebenarnya melihat adik-adik usia SMP dan SMA itu menggali kolam, membeli terpal, mencari referensi budidaya lele ke peternak sendiri dan membuat jadwal memberi pakan. Tapi, itulah hidup. Mereka harus belajar menghadapi hidup secara mandiri karena bangsa ini menghendaki generasi yang kuat, cepat, tegas, cerdas yang didasari kesadaran akan taat kepada Tuhannya. Kondisi bangsa saat ini sudah terlalu lemah dan lamban tetapi kadang-kadang masih berani meremeh-remehkan Tuhan.

Mendapat 3 Ember Lele
Setelah itu, malam harinya setelah tarawih, Doni Carnado selaku ketua kelompok budidaya lele bersama anggota menyiapkan sebagian lele hasil panen untuk sahur bersama. Suasana senang dan penuh kerjasama mewarnai pembersihan jerohan lele saat itu.

Nikmatnya Sahur Bersama
Fajar hari itu, 13 September sesaat setelah ronda membangunkan warga untuk sahur, kami berkumpul bersama di markas KP3. Menikmati sahur sederhana bersama namun penuh dengan keriangan. Adik-adik KP3 yang juga merupakan santri TPA dan remaja masjid Al-Amin Trucuk ini tampak khidmat. Meskipun, mungkin gorengannya terlalu asin atau sayurnya agak hambar tetapi tidak ada serapah yang meluncur dari mulut mereka. Hanya tawa dan keindahan yang hadir pada ketika itu.
Sesaat terbersit dalam benak tentang keluhan banyak orang tentang sulitnya mengajak remaja untuk pergi ke masjid. Mengapa mereka tidak menggunakan cara seperti ini? Memberikan modal usaha dan belajar kepada para remaja dengan infak warga atau pun dengan kas masjid. Terbukti mereka merasa nyaman untuk pergi ke masjid.
Barangkali sudah terlalu mewah masjid kita untuk dihias. Sudah terlalu lengkap fasilitasnya untuk disempurnakan. Allah tidak akan protes dengan keadaan masjid yang sederhana. Lebih berharga jika kas masjid tersebut untuk wasilah penyelamatan 5-6 orang remaja di kampung kita itu ketimbang membangun sesuatu yang tidak perlu. Ingatlah, sebagian tanda kiamat adalah manusia bermegah-megah membangun masjid, tetapi kosong dari jamaah. Seperti yang terjadi saat ini. Isman, KP3.